Graha Tristar

Graha Tristar

Senin, 10 Februari 2014

Tata Cara Minum Teh ala Jepang Diajarkan di Akpar Majapahit


Ada yang istimewah nih di Kampus Akpar Majapahit pada tanggal 22-25 April 2013 kemarin.

 


Pasalnya, Akpar Majapahit kedatangan tamu sebanyak 11 taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumimoro, Krembangan Surabaya ---dari Korps Suplai--- yang ingin menimba ilmu tentang tata cara minum teh ala Jepang.

Sebagai sekolah Tinggi Pariwisata, teman-teman Akpar dan para dosen pun menyambut baik siapa saja yang akan visit ke kampus Akpar Majapahit.

Lalu ngapain aja sih kegiatannya ?

Yuk kita intip bareng-bareng ..


Uniform chef pada umumnya berwarna Putih dan kolaborasi lainnya. Sekarang ada yang beda nih di Lap.Pastry Akpar Majapahit hari itu, seragam coklat berbaret AAL (Akademi Angkatan Laut) ini sedang membanjiri Dapur Pastry kita, mereka sedang belajar masak dengan Dosen Pastry Akpar Majapahit Chef Micky dan belajar aneka masakan Jepang bersama Chef R. Bagus Handoko.

Untuk suksesnya acara tersebut, pihak Akpar Majapahit menghadirkan langsung dosen Mrs. Iwasaki Yasui (native speak) dan dua orang mahasiswa dari Jepang yakni Hiroe Miyake dan Nanaho Miyake, yang saat ini belajar di Unitomo dalam program pertukaran mahasiswa (student exchange).


Dari pihak kampus Akpar Majapahit nampak hadir dalam jamuan minum teh ala Jepang adalah Hedy W. Saleh, Machtucha dan Chef R Bagus Handoko, sedang dari pihak Unitomo diwakili Cicilia Tantri Suryawati dan Mrs Iwasaki Yasui (dosen).


Menurut Chef R Bagus Handoko (tengah), kehadiran 11 taruna AAL (kadet) Tingkat II yang belajar kuliner di kampus Akpar Majapahit ini merupakan langkah awal dari kerjasama yang dirintis oleh kedua lembaga. "Begitu juga dengan pihak Unitomo, kami juga menjalin kerjasama terutama yang berhubungan dengan bidang studi Bahasa Jepang berikut pernak-perniknya,” ujar chef Bagus Handoko, yang juga menjadi dosen tidak tetap (food & beverage) di AAL.

Para kadet pun nampak antusias mengikuti penjelasan langsung dari native speak Mrs. Iwasaki Yasui yang dipandu bersama Cicilia Tantri Suryawati, Chef Bagus Handoko dan Machtucha.  Para kadet juga dipersilakan untuk mempraktikkan secara langsung  tata cara minum teh ala Jepang dengan didampingi langsung oleh dua mahasiswi Jepang yang sekarang belajar di Unitomo.

Asisten Direktur III Akpar Majapahit Machtucha, Dipl.Hot., SE, M.Par mengatakan, upacara minum teh (chanoyu) adalah suatu etiket mengenai tata cara menyajikan teh dan menikmatinya. Menurut historisnya, teh pertama kali masuk ke Jepang sekitar abad 8 (zaman Nara) dibawa oleh para pendeta dan cendikiawan dari China dan meluas di kalangan para bangsawan. Pada saat itu, dibandingkan sebagai minuman, teh lebih dikenal sebagai obat. Pada awal zaman Kamakura (sekitar akhir abad 12 sampai awal abad 14), bibit teh dibawa dari China dan ditanam di Jepang. Pertama kali teh ditanam di Jepang di kuil Kousanji di daerah Kyoto Utara. Upacara sekitar minum teh pertama kali dirancang oleh Murata Shukou, sekitar akhir abad 15.

Murata Shukou  yang selalu mendampingi Shogun Ashikaga Yoshimasa mencoba menemukan keserasian kehidupan hening, sunyi, lepas dari kegaduhan duniawi, serasi dengan alam. Adapun yang berjasa dalam mengangkat upacara minum teh ke dalam dunia seni adalah Senno Rikyuu, seorang warga Sakai (Osaka). Hingga sekarang, Chanoyu merupakan suatu  bentuk kesenian khas Jepang yang memiliki keindahan absolut.

Upacara atau tata cara minum teh ala Jepang (chanoyu) punya banyak aturan. Tidak sesederhana yang kita pikirkan. Tapi hal ini membuat tata cara minum ala Jepang menjadi istimewa.

Ketika Anda bertamu dan disuguhi teh oleh tuan rumah, maka Anda tidak boleh langsung meminumnya. Ada beberapa hal yang  harus dilakukan sebelum menikmati teh hijau yang baru saja dibuat tuan rumah. Dalam chanoyu, teh disajikan dalam cawan yang biasanya memiliki motif di salah satu sisinya.

Gerakan yang sama juga diterapkan untuk cawan-cawan tidak bermotif. Teh hijau dalam cawan tersebut harus dihabiskan sebagai tanda hormat.  Agar tehnya tandas tidak bersisa, ditegukan terakhir lebih baik diseruput, sedot sampai habis.

Setelah selesai minum teh, tamu dapat memperhatikan detil cawan, mulai dari motif hingga nama pembuat yang biasanya ada di bagian bawah cawan. Perlu diingat, setiap cawan itu berbeda-beda, Anda belum tentu bisa bertemu dengan cawan yang sama. Selain itu, cawan juga sangat berharga, jadi ketika melihatnya harus sangat berhati-hati.

Kebiasaan minum teh di Jepang merupakan ritual tradisional dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chato atau cha no yu, kalau di luar ruangan disebut nodate.

Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh yang disebut Tea Master. Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Dihidangkan dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tea Master, orang yang menyiapkan teh memberikan cangkir (yang sebenarnya mangkok) tidak sembarangan, namun sesuai "kepribadian" para tamu, biasanya para lelaki diberi cangkir yang simple, dan para wanita diberi cangkir bunga.

Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchado, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchado.

Posisi dan teknis minum teh juga ada aturannya. Posisinya adalah seperti duduk di antara dua sujud pas sholat. Bagi yang tak terbiasa, ini adalah posisi yang tidak nyaman.

Selain itu, sebelum menempelkan cangkir ke bibir, cangkir diletakkan di telapak tangan kiri dan tangan kanan harus memutar cangkir 180 derajat dalam tiga putaran! Jika lupa, ini dianggap sangat tidak sopan, dan tuan rumah akan sangat tersinggung. Karena gambar bunga-bunganya harus terlihat di depan sehingga tuan rumah mengetahui bahwa kita sangat menikmati teh tersebut.

 


So, jika Anda berkesempatan dijamu orang Jepang, maka tidak bingung harus bersikap seperti apa.

Teman teman dari semester 2 Perhotelan akhirnya juga menambah banyak pengetahuan tentang jamuan orang jepang,mereka juga ikut menerapkan Service ala Hotel sesuai dengan teori F & B Service yang telah diperoleh. (/nisa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar