Graha Tristar

Graha Tristar

Jumat, 21 Februari 2014

POJOK MAHASISWA : Dari Pontianak Sampai Surabaya


Hello guys, kali ini kami bakal membahas tentang mahasiswa part-time Maja Cafe (MATOA Cafe). Seorang cowok item manis kelahiran Pontianak 3 Maret 1994 ini adalah salah satu mahasiswa kuliner di Akpar Majapahit atau sedang booming disebut MATOA.

Sebenernya bakat dan minat Tri (panggilan Tri Setiawan Luslim) adalah di bidang olahraga. Namun, dari kecil dia sudah seneng lihat masak dan udah seneng di dapur meskipun dia bercita-cita menjadi seorang dokter.

Cowok yang pernah sekolah di SMA 2 Pontianak, SMA 7 Denpasar, dan sempet juga kuliah di Ubaya jurusan Akuntansi ini akhirnya memutuskan untuk mengambil jalur culinary dan ingin menjadi chef. Dengan keinginan itu, sampailah dia belajar di MATOA pada Juli 2013.

Terpacunya dia menjadi seorang chef adalah dia awalnya seneng sama masakan sang ibunda, karena penasaran dengan proses membuat sebuah masakan, dan akhirnya dia ingin mempelajari dan mengembangkan ilmu ini.



Keinginan bersekolah di kuliner ini mendapat dukungan dari kedua orang tuanya, meskipun pada awalnya sang ibu melarang keras Tri untuk masuk di dunia kuliner, beliau  menyuruh dia untuk kuliah di jurusan Akuntansi yang dianggap lebih menjanjikan. Untunglah sekarang dia sudah mendapat restu dari sang ibu untuk mengambil jalur kuliner.

Tri tidak hanya kerja part-time di Maja Cafe aja lho guys, dia juga mendapat kesempatan untuk bekerja di Hachi Roku, sebuah kedai masakan Jepang.
Selama belajar dan bekerja di MATOA dia merasa senang karena lingkungan yang baik, dan selama dia di MATOA dia mendapat ilmu yang dapat melatih skill-skillnya, tidak hanya skill saja namun dapat melatih hal-hal lainnya.


Ada pesan nih dari Tri untuk kalian, dia berkata “Lakukanlah hal yang ingin kamu lakukan, karena jika tidak maka hal yang dikerjakan hanya menghasilkan sesuatu yang setengah-setengah”

Setuju gak kalian sama pendapat dari Tri? Karena keinginannya, dia bisa mengembangkan minatnya di MATOA dan menghasilkan hal yang tidak sia-sia.

Inilah bukti bahwa MATOA tidak hanya menyediakan fasilitas untuk bidang Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata saja, melainkan juga memfasilitasi bidang Kuliner dan Pastry.

Gak rugi kan sekolah di MATOA? Ingin mengetahui tentang kami lebih jauh?

Kalian bisa mendatangi langsung ke kampus kami di Jl. Raya Jemursari no. 244 Surabaya, atau kunjungi website kami di www.majapahit.org

Lebih suka by phone? Tidak masalah, kalian bisa menghubungi kami di:
Surabaya       : 081233752227, PIN BBM 2A1CE131
                           081234506326, PIN BBM 27ECEFD1
Jakarta           : 08883271088, PIN BBM 3298F492

See you guys! (/dsp)

Selasa, 18 Februari 2014

Simulasi kerja Nyata Matoa (Majapahit Tourism Academy)

   Pada tanggal 14 February dikenal sebagai hari kasih sayang atau biasa disebut Valentine days. Hari kasih sayang ini sekarang sudah mulai diasosiasikan oleh para pencinta yang saling bertukar notisi notisi dalam bentuk “valentines” adapun symbol modern valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati,gambar sebuah cupid bersayap,cokalat dan bunga mawar.
Aksi seru inilah yang dilakukan teman teman Mahasiswa Akpar Majapahit merayakan hari Valentine nya.



Acara ini dilakukan bertepatan pada sore hari (13/02/2014) menjelang perayaan hari kasih sayang tempatnya di Naomi Café & Resto.
Mereka bukan sekedar membagi gratis untuk pengguna jalan,sekaligus berpartisipasi dalam perayaan Valentine Days,namun mereka juga berjualan hasil produk mereka (Nasi bakar Traveling) untuk pengguna jalan sore itu.





 Apa itu Nasi Bakar traveling ??
Nasi bakar sudah dikenal akrab oleh masyarakat khususnya para backpacker yang sedang melancong.
entah darimana asal usul Nasi bakar sangat sulit untuk dilacak,hanya saja popularitas Nasi Bakar mulai naik di Kota Bandung dan sampai sekarang masih diburu pecinta pecinta kuliner seluruh Nusantara salah satunya di Surabaya.
Ciri khas Nasi Bakar Traveling yaitu lauknya yang berada di dalam nasi lalu dibungkus daun pisang ini dijadikan mereka sebagai produk andalan mereka,dan tak terduga bisa laris manis dijual disemua kalangan.
Sore itu mereka mampu menjual 30 bungkus Nasi Bakar Traveling dan 25 pasang coklat+Bunga.






                                                                                                                                    
Asal mula mereka berjualan berawal dari Pak Yuda (Dosen) yang mengajar Matakuliah Wirausaha di Triwulan Akhir. Dengan demikian mereka diberi kesempatan untuk berwirausaha ditengah tengah kesibukan kuliah. Hal inipun tidak menjadi beban bagi Mahasiswanya.
Menurut  Bagus Rizky (Mahasiswa Culinary Pagi 3) berkata bahwa “Saya Pribadi sangat senang dengan adanya program seperti ini,bisa menambah wawasan saya dan teman teman serta membekali saya untuk bisa berwirausaha sejak sekarang”.



Sistem ini adalah sebuah miniature program yang akan diterapkan di Tristar Culinary Institute Kaliwaron dan Jakarta oleh Pak Yuda selaku Dosen Culinary.
Tentunya hal ini tidak menjadikan Mahasiswa keberatan, karena selain untuk mencapai target nilai dalam Mata Kuliah Pak Yuda,mereka juga bisa belajar berwirausaha,Tim work yang baik, berinteraksi dengan konsumen,dan belajar menjadi pengusaha sejak dini.

“Tujuan dari program ini adalah untuk melatih kekompakan mereka,kegiatannya fun  dan melatih anak anak agar berjiwa social,karena semua penghasilan seluruhnya akan disumbangkan bagi yang membutuhkan .” Ungkap Pak Yuda.

Nasi Bakar Traveling ini tak hanya diproduksi dan dijual sehari/dua hari saja,namun karena semangat dan ketekunan mereka dalam menjual,Alhasil Produk mereka laris manis setiap harinya,dan akan diterapkan secara permanen (seterusnya tanpa mengganggu jadwal kuliah).
Memang,untuk Mata Kuliah Wirausaha ini Pak Yuda hanya memasang target seminggu saja berjualan,akan tetapi belum seminggu saja Produk mereka sudah banyak yang pesan dan balik modal sejak 3 hari setelah mereka berjualan,maka program memproduksi dan berjualan Nasi Bakar  ini akan berlaku dalam jangka waktu panjang atas dasar semangat mereka dalam berwirausaha.

1 Kelas terbagi atas 4 kelompok. Kelompok 1 inilah yang dipelopori oleh Bagus Rizki sejauh ini sudah mencapai target,dengan modal awal yang Rp.500.000 ,mereka mampu mengembalikan modal tersebut,bahkan menghasilkan 3 kali lipat dari modal awal.
“Harapan saya supaya teman teman tetap semangat,dan dengan program ini sangat bermanfaat serta bisa saya aplikasikan setelah lulus nanti untuk mempunyai usaha sendiri dibidang kuliner.” Sambung Bagus Rizky.
(/Nisa)

Sabtu, 15 Februari 2014

HIZTERIA STREET EVENTS : Youth Culinary Special (YCS) at GBI Kutai Surabaya


Ada yang berbeda di Gereja Bethel, yang berlokasi di Jl. Kutai No. 25 Surabaya sore itu, terlihat ramai tak seperti biasanya.
Suasana ibadah malam itu semakin hangat, dan terasa begitu lengkap dengan hadirnya teman teman dari “D'Hizteriz street” yang ikut bergabung serta ibadah di GBI Kutai.


Berbagai lomba yang diadakan oleh pihak Gereja membuat mereka sangat antusias untuk mengikutinya, bahkan Gereja Bethel juga kedatangan teman-teman dari Akpar Majapahit (non kristen) walaupun hanya sekedar melihat untuk berpartisipasi saja.

Youth Culinary Special (YCS) ini adalah acara yang diselenggarakan pihak gereja pada momen-momen tertentu. Kebetulan di GBI KUTAI inilah Thirza Angelina Asianti (Cica), mahasiswi Pastry yang juga salah satu anggota Hizteria Street, menjadikan Gereja tersebut sebagai tempat ibadahnya. Sehingga Cica mengundang teman-temannya untuk ikut berpartisipasi dalam event yang di adakan oleh Gereja Bethel ini.

Adapun lomba lombanya yaitu antara lain : Cooking competition dan Bartending Art Show.


Apa sih Hizteriz street itu ?

D'HIZTERIA adalah sebuah konsep café dan komunitas/tempat berkumpulnya anak muda. Namun seiring berjalannya waktu, bidang kuliner tidak identik dengan memasak, dan membuat minuman saja, namun bisa diaplikasikan sebagai kesenian. Sehingga Pak Yudha (Dosen Akpar Majpahit) membentuk sebuah komunitas ini pada bulan Mei 2013 kemarin.

Menurut Pak Yuda “Keistimewaan di Hizteriz street ini mereka bisa saling belajar, sharing dan melakukan hal positif bersama."

Memang Hizteria terbentuk masih baru-baru ini, anggotanya pun hanya beberapa saja dari teman-teman mahasiswa/mahasiswi Akpar Majapahit.  “Dan menariknya disini,mereka melakukannya dengan tulus ikhlas." Sambung Pak Yuda dengan ketawa khas nya.

Karena dilihat semakin banyak minat mahasiswa dan mahasiswi Akpar Majapahit untuk bergabung di komunitas ini yang awalnya diberi nama “Hizteria”, kemudian baru lahir “D'Hizteriz Street” mulai bulan September 2013 kemarin.

Pucuk dicinta ulam pun tiba 
Yang awalnya mereka kopdar (kumpul-kumpul bersama) sambil liburan, mereka juga menggelar acara seperti pengabdian masyarakat, dari situlah Hizteriz street mulai terlihat jelas visi dan misinya, sehingga banyak kegiatan yang menekankan seni di dunia kuliner.

Pada bulan Desember 2013 kemarin, Hizteria street menggelar Outing resmi pertamanya bersama Matoapala, tepatnya di Bromo, Probolinggo, Jatim.

(untuk lebih jelasnya kegiatan apa saja yang mereka lakukan bisa dilihat disini => 

http://www.majapahitacademyoftourism.blogspot.com/2014/02/matoas-activity-hizteria-street-feat.html

Pada hari kamis, 6 February 2014 kemarin Hizteriz street diberi kesempatan mengisi acara MOU (tamu dari Jerman). Sehingga semua orang mengerti dan nama D'Hizteriz Street mulai dikenal di lingkungan kampus Akpar Majapahit, termasuk Owner Bapak Ir.Juwono Saroso memberi kepercayaan penuh Pak Yuda sebagai event organizer bergerak di bidang entertain dan culinary.



Selama ini, bartending dikenal orang sebagai hal-hal yang negatifdan identik dengan dunia malam, namun Hizteria street mampu mengubah pandangan orang bahwa bartending juga bisa bergerak dibidang seni,yang memberikan wajah lain dan bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.

Tujuan/harapan ke depan setelah event-event yang diadakan Hizteriz Street ini supaya bisa diterima di lingkungan masyarakat, makin berkembang ilmu pengetahuan dan mampu melayani masyarakat dengan baik.

Kembali pada acara YCS 7 February 2014 kemarin. Telah menunjukkan kekompakan keluarga besar Hizteriz Street. Misalnya pada kompetisi lomba masak yang diadakan pukul 20.00. Setelah melakukan ibadah dilantai 2, suasana pun ramai dengan belasan anak-anak muda berkostum kaos hitam berlambangkan Hizteriz Street ini.




Pembagian kompetisi memasak,terbagi menjadi 2 kelompok antara lain kelompok A dan B :
Kelompok A antara lain : Edwin Joan,Andreas Prabu,Sila
Kelompok B antara lain : Thirza Angelia,Johana Veladita,dan  Charles Jonathan

Acara terlihat meriah sekali, mereka seperti mengikuti kompetisi di Master Chef Indonesia. hehee

Peraturan mainnya, memang tidak beda jauh dengan kompetisi di Master Chef Indonesia yaitu kedua belah tim tidak tau apa yang akan dimasak untuk lomba ini, karena mereka hanya disediakan bahan seadanya oleh Juri dan dalam kurun waktu 1 menit mereka di suruh memilih dan kembali ke tempat yang telah disediakan untuk mengolah bahan tersebut menjadi 2 jenis makanan yaitu membuat Appetizers dan Maincourse dalam waktu 45 menit.

Wajah kebingungan terlihat di antara anggota kedua tim tersebut, suasana tegang menghiasi acara malam itu. Hingga akhirnya Juri memberi aba aba telah selesai, perasaan lega pun bisa mereka rasakan.






Sembari menunggu keputusan dari juri untuk menentukan siapa yang berhak memenangkan lomba, kedua belah tim masih di adu dalam kompetisi bartending Art show,yang uniknya menggunakan backsound lagu rohani.

Atraksi bartending yang dilakukan Prabu malam itu mampu membuat penonton dalam ruangan itu tercengang. Sangat luar biasa pertunjukan malam itu.


Atraksi yang dilakukan mereka antara lain : Dry Ice Waterfall dan Fire Flair. 

Adegan berbahaya yang tidak patut ditiru oleh orang yang belum berpengalaman dalam bidang ini menimbulkan suasana takjub bagi yang melihatnya, sekitar lebih dari 10 menit pertunjukkan bartending berlalu, juri pun meniup peluit simbol berakhirnya kompetisi. Tepuk tangan sangat meriah oleh para penonton.





Menurut Ronald salah satu Juri YCS dan ketua Youth GBI Kutai menyatakan “Saya sangat senang,dengan kegiatan positif seperti ini, melatih kreativitas anak muda seperti adanya cooking competition, Flairing Bartending,  juga melatih kekompakan mereka.” ungkapnya.

Pertunjukkan Bartending Atraction tadi, benar-benar melatih kekompakkan antar tim. “Harapan saya kedepan, supaya Gereja Bethel (GBI KUTAI)  membuka dengan luas, dan semoga semuanya bisa sukses, dapat berguna bagi nusa dan bangsa” sambung Ronald.
Hasil akhir kompetisi ini bukan mencari siapa pemenang dan siapa yang kalah, namun karena kedua belah tim sudah berusaha menampilkan yang terbaik,maka Ronald atas nama juri menyatakan,piala unik yang bertulisan "SUPER CHEF" berhak dibawa pulang oleh kedua belah tim yang notabennya keluarga besar "D Hizteriz Street".

So, Event YCJ kemarin membawa pesan bahwa Bartending merupakan seni dari dunia kuliner, serta bisa dinikmati oleh semua kalangan,tidak lagi dipandang negatif yang identik dengan dunia malam ,club dan minuman alcohol (Cocktail). Bartending bisa bermanfaat untuk kegiatan kerohanian.

Menurut Pak Yuda “Harapan kedepan supaya lebih baik lagi, dapat merekrut anggota lebih banyak lagi dan makin kompak”

Hizteriz street saat ini sudah dikenal jaya oleh kalangan kampus, sejauh ini sudah sering mengadakan event-event positif, dan tidak menutup kemungkinan bagi yang mau mendaftar bergabung menjadi keluarga besar Hizteriz Street, tidak ada syarat khusus yang terpenting adalah minat dan tekat yang kuat dari individu itu sendiri.

“Kami membuka untuk siapa saja yang mau dan ingin bergabung, entah itu dari mahasiswa mahasiswi Akpar Majapahit maupun umum, asalkan mereka punya visi yang sama” ungkap Pak Yuda.

Adapun visi Hizteriz Street yaitu menjunjung tinggi kekeluargaan dan kebersamaan.


"Be Glory,Be Creative,and Be Maximum" 

(/Nisa)